Pengalaman Mengajar yang Tak Akan Pernah Terlupakan
Menjadi mahasiswi Sastra Inggris, saat itu tidak ada bayangan dalam diri saya bahwa suatu hari saya akan mengajar. Namun, semua itu berubah ketika saya menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa aktif saat itu. Tepat tiga tahun yang lalu, saya bersama kelompok KKN yang ditentukan dari berbagai macam background jurusan berbeda, ditugaskan untuk melakukan KKN di salah satu desa di Kabupaten Malang, yaitu Desa Mangliawan. Sebenarnya, desa tersebut tidak terlihat seperti “desa” dalam bayangan saya yang mana kehidupan penduduknya masih dibilang primitif dan memiliki kesulitan akses fasilitas. Dilihat dalam segi akses dan fasilitas, keperluan desa ini sudah dapat dikatakan cukup. Namun, ada satu hal yang saat itu saya sadari yaitu kurangnya SDM yang mumpuni sehingga saya dan teman-teman kelompok saya menawarkan diri untuk menjadi tenaga pengajar di salah satu sekolah dasar negeri di desa tersebut.
Kegiatan
mengajar tersebut sebenarnya merupakan pengalaman mengajar saya yang kedua
kalinya. Pertama, saya sempat mengajar di salah satu taman kanak-kanak di
lingkungan tempat tinggal saya setelah saya lulus SMA dan mengambil gap year.
Pengalaman tersebut luar biasa tentunya, namun sangat berbeda jika dibandingkan
dengan pengalaman saya ketika mengajar di sekolah dasar. Keduanya memiliki
tantangan yang cukup berbeda. Mengajar di taman kanak-kanak terasa sangat
menantang karena saya dihadapkan dengan karakteristik anak kecil yang sangat
aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sedangkan mengajar sekolah
dasar di lokasi KKN membuat saya menyadari lebih banyak hal tentang kemanusiaan
dan pengabdian.
Saat itu saya
ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris bagi murid kelas 3, 4,
dan 5 karena kebetulan pada saat itu guru Bahasa Inggris yang ada sedang ada
halangan mengajar dalam beberapa minggu. Murid-murid terlihat cukup semangat
dan aktif pada saat itu. Bahkan banyak diantara mereka yang lumayan bandel.
Sampai-sampai saya merasa kebingungan bagaimana mengatasi tingkah perilaku para
murid.
Awalnya memang cukup menguras tenaga, setelah berkonsultasi dengan kepala sekolah, saya mendapat gambaran latar belakang keluarga para murid yang bersekolah di sekolah tersebut. Dari situ saya mulai memahami karakteristik lingkungan para siswa dibesarkan sehingga saya menyadari latar belakang perilaku mereka. Saya mulai mengubah cara pandang saya terhadap para siswa, yang awalnya saya melihat mereka sebagaimana hanya objek dalam sistem pengajaran menjadi anak-anak yang unik, yang dibesarkan dengan situasi, kondisi keluarga serta lingkungan yang berbeda satu sama lain. Cara pandang tersebut membuat saya lebih berempati terhadap para siswa. Saya merasa lebih semangat dalam mengajar. Sehingga, yang sebelumnya saya cukup merasa kelelahan malah menjadi sebaliknya. Mengajar menjadi sebuah kegiatan yang seolah-olah menjadi hiburan saya di sela-sela kegiatan KKN yang lain. Satu pelajaran yang dapat saya ambil dari kegiatan mengajar saya saat itu adalah sebagai pengajar, satu hal mendasar yang harus disadari adalah memandang murid sebagai sesama manusia yang kompleks dengan dinamika kehidupan keluarga dan masyarakat yang berbeda-beda.


Pengalaman yang sangat bagus,
ReplyDelete