Hari-Hari Yang Bermakna

Bulan Maret ini diawali dengan kegiatan-kegiatan yang cukup padat. Mulai dari proyek kewirausahaan, acara penghargaan dari Leprid, visitasi dari Dinas Pendidikan Provinsi, PTS, serta kunjungan ke SMK PGRI 2 Kudus. Dalam serangkaian kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran-pelajaran berharga yang tidak dapat saya temukan hanya dengan belajar teori-teori saja. Hal itu tidak lepas dari kedatangan Ibu Capri Anjaya, konsultan pendidikan kami yang dengan ilmu-ilmu serta nasihat-nasihatanya kami belajar banyak sekali pelajaran berharga.


Pelajaran pertama yang saya dapat dalam seminggu ini adalah mengenai kepercayaan diri dan persiapan yang matang. Saat acara visitasi Dinas Provinsi ke SPSS, saya ditunjuk untuk menjadi MC oleh teman-teman guru yang lain. Awalnya saya kira teman-teman hanya bercanda, sehingga saya sedikit santai. Sampai akhirnya h-1 acara, ternyata di situ saya baru menyadari bahwa mereka benar-benar menunjuk saya untuk menjadi MC. Mengingat bahwa saat itu adalah kali pertama saya menjadi MC, saya gugup bukan main. Pada malam hari sebelum acara, saya mencoba untuk membuat teks susunan acara dengan bantuan teman-teman guru yang lain. Saat acara hampir dimulai, tangan saya dingin sekali. Saat itu saya berusaha untuk mengatasi rasa gugup saya dengan mengajak kawan guru yang lain mengobrol santai. Alhamdulillah saat saya maju ke depan rasa gugup saya berkurang. Tetapi, karena kurangnya persiapan dan takut salah, saya masih membaca teks. Sehingga kontak dengan audiens terlihat sangat kurang.

Hal lain yang saya pelajari adalah satu poin dari cara penyampaian materi kepada para murid. Poin tersebut adalah bagaimana kita, sebagai guru tidak hanya memberi materi. Namun, juga mengajak siswa untuk berpikir. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan diberi pemantik terlebih dahulu. Saat beberapa rekan guru presentasi pada hari Selasa lalu, Ibu Capri menjelaskan pentingnya pemantik saat kita menjelaskan materi. Sehingga para siswa dapat lebih terpancing untuk berpikir dan mengemukakan pendapat serta ide-ide mereka. Selain itu, Ibu Capri juga mempraktikkan secara langsung bagaimana mengajar Bahasa Inggris dengan menggunakan communicative approach yang benar. Di mana para siswa ikut aktif secara langsung dan dengan penyampaian materi yang sederhana namun dapat nyantol di pikiran serta mudah diikuti. 

Sebenarnya tidak hanya itu, ada juga pelajaran yang lain yang saya dapatkan saat kunjungan di SMK PGRI 2 Kudus. Mengenai itu, akan saya tulis di blog berikutnya. See you!

Comments

Post a Comment

Popular Posts