Pencuri dan Anjing-Anjing Bagian 3 (Selesai)
![]() |
| Ilustrasi oleh Sujith Rathnayake |
Setelah menangkap basah Said, Rauf mengusirnya serta menolak untuk mendengarkan permintaan maaf Said. Dari situlah hubungan mentor dan murid terpecah dan berubah menjadi musuh. Merasa sedih dan kecewa, Said beruntung masih memiliki tempat untuk berpulang. Ia datang ke sebuah kafe yang dimiliki temannya yang bernama Tarzan. Tarzan menerima kepulangan Said dengan sepenuh hati. Mereka merupakan bagian dari bandit di mana Said (bersama dengan Ilish dan Rauf) bekerja secara kolektif. Di sana Said bertemu Nur, wanita yang telah cukup lama menyukai Said. Namun, Said masih tidak bisa membalas cintanya karena hatinya masih terselimuti oleh kebenciannya terhadap mantan istrinya sehingga ia tidak memiliki waktu untuk itu.
Dengan bantuan Tarzan dan Nur, Said Mahran merencanakan balas dendamnya kepada Ilish Sidra, Nabawiyya, dan Rauf Ilwan. Ia mendapatkan pistol dari Tarzan yang akan ia gunakan membunuh ketiganya. Meski begitu, Said juga memikirkan kehidupan putri semata wayangnya, Sana. Namun perasaan emosional itu tidak berlangsung lama, karena Said kembali terfokus dengan rencana balas dendamnya. Sasaran pertamanya adalah Ilish Sidra dan Nabawiyya.
Kebencian dan dendam yang membara telah membuat Said Mahran impulsif. Tanpa adanya perencanaan dan pertimbangan yang matang, tembakan yang ditujukan kepada Ilish Sidra justru mengenai orang lain yaitu Shaban Husayn. Shaban adalah penghuni baru rumah Ilish dan Nabawiyya yang ternyata telah pindah dari kediamannya setelah kunjungan pertama Said.
Berita mengenai pembunuhan tersebut menyebar dengan cepat di koran. Rauf Ilwan, yang merupakan editor surat kabar menulis artikel khusus tentang kelompok perampokan dan pembunuhan di korannya. Said mengetahui bahwa artikel itu sengaja ditulis Rauf untuk membatasi gerak geriknya dan mengintimidasinya. Upaya itu berhasil karena setelah artikel itu terbit, bahkan kafe milik Tarzan bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi Said Mahran.
Said mencoba melakukan percobaan pembunuhan kembali namun tidak berhasil. Seketika itu, ia tidak lagi menemukan tempat yang aman. Nur meninggalkannya. Ia kembali ke tempat Syekh Ali namun di sana juga tidak lagi aman. Said mendengar orang-orang membicarakannya di sana. Kemudian dengan perasaan yang berapi-api ia melanjutkan perjalanannya yang berakhir di kuburan yang berlokasi dekat dengan tempat tinggal Nur. Di situlah ia mendengar suara anjing-anjing pelacak dan melakukan baku tembak dengan polisi. Bersamaan dengan peluru yang menghujaninya, Said menyadari bahwa segala yang ia lakukan hanyalah sia-sia belaka dan ia menghembuskan nafas terakhirnya.



Keburukan tak bisa dibalas dengan keburukan. Potong rantai setan dengan berserah dan ikhtiar memohon kepadaNya😊
ReplyDeleteHarusnya Said belajar banyak tentang kehidupan ini. Lebih baik menjalani kehidupan dengan kedamaian
ReplyDeleteKarena sejatinya dendam hanya akan menggerus diri sendiri
ReplyDelete