Refleksi Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi oleh Seno Gumira
Halo teman-teman, selamat berlibur! Dalam kesempatan ini saya akan membahas mengenai pidato kebudayaan yang dibawakan oleh salah satu budayawan dan sastrawan Indonesia, yakni Seno Gumira Adjidarma. Pidato ini disampaikan pada acara perayaan ulang tahun Taman Ismail Marzuki (TMI) yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tanggal 10 November 2019 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pidato berdurasi 46 menit 31 detik ini dapat ditonton melalui tautan ini.
Seno Gumira memulai pidatonya dengan membahas makna pertarungan budaya dari analogi bungkus tusuk gigi. Dalam pidatonya, pembicara membongkar makna-makna denotasi dan konotasi yang terkandung dalam sebungkus tusuk gigi. Ada kemasan tusuk gigi yang bentuk visualnya tidak berhubungan sama sekali dengan isinya (makna konotatif), seperti berupa display nama restoran, nama hotel, atau nama maskapai penerbangan. Ada pula yang bentuk visualnya mewakili isi di dalamnya (makna denotatif), yaitu bungkus tusuk gigi yang bertuliskan "tusuk gigi" atau "toothpick". Dalam konteks ini, Seno Gumira menegaskan bahwa tidak ada kebenaran yang tunggal bahkan dalam bungkus tusuk gigi sekalipun. Berikut merupakan kutipan pidatonya,
Kiranya tidak perlu pertimbangan terlalu lama untuk menyaksikan, bahwa ketika setiap versi denotasi alias makna sebenarnya, yang secara kontradiktif dapat pula disebut versi kebenaran ini terhadirkan, ternyatalah bahwa tiada kebenaran yang tunggal, karena ternyata setiap usaha menyampaikan denotasi merupakan konotasi pula. Sedangkan usaha menyuruk ke dalam argumen pembenaran, atas hakikat keberadaan tusuk gigi ini, justru menghasilkan keberagaman konotatif yang menggugurkan ideologi kebenaran tunggal itu sendiri.
Berikutnya, Seno Gumira menjelaskan lebih dalam mengenai pertarungan antar makna melalui contoh-contoh sederhana lain yang dapat kita temui di kehidupan kita. Seperti helm dan hijab, siput dan kancil, serta "pertarungan" dalam kemasan wingko babat yang biasa ditemui di Stasiun Tawang, Semarang. Pertarungan-pertarungan tersebut akan terus berlangsung dan tidak ada habisnya. Di saat yang sama, pertarungan tersebut juga dapat menjadi kekayaan kebudayaan kita.
Dalam kasusnya, danya tarik menarik diatas penikmat dan pelaku budaya bukanlah bauran antara budaya yang "lemah" dan "kuat". Karena pada dasarnya, lemah bukan berarti kalah dan kuat bukan berarti menang. Adanya pertarungan antara budaya atau ideologi yang dianggap minoritas dengan mayoritas adalah sebuah keniscayaan. Sehingga tidak ada budaya yang dapat berkuasa tanpa adanya perlawanan. Hasilnya, Seno Gumira menyimpulkan bahwa keberlangsungan kebudayaan adalah sebuah proses hegemoni. Di mana golongan suprastruktur bukanlah menjadi penentu dari keberlangsungan suatu kebudayaan, melainkan sudah menjadi pertarungan yang bersifat hegemonial.
Seno Gumira juga membahas mengenai bagaimana pemerintah menyikapi revolusi industri 4.0 yang terkesan terburu-buru ingin menyusul negara-negara lain. Ia juga menambahkan bahwa adanya kemajuan revolusi industri juga merupakan gejala kebudayaan. Yang secara harfiah tidak selalu beradu kecepatan dan bahwa pencapaian terbaik adalah menjadi yang tercepat. Di akhir pidatonya ia berkata,
Dalam akhir petualangan di belantara tanda-tanda, dalam bahasa, sussastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
.png)


Banyak pembelajaran yang bisa diambil, keren kak
ReplyDeleteAntara metafora dan realita😊
ReplyDeleteBahasanya berasa kek kuliah lagi wkwk
ReplyDelete