Seni Mendengarkan
Di waktu liburan ini, selain membaca buku fiksi, saya juga membaca buku non-fiksi. Kali ini buku yang saya baca adalah "Hidup Sederhana" karya Desi Anwar. Buku ini membahas mengenai hal-hal yang kelihatannya kecil dan sederhana tetapi memiliki peran penting dalam pembentukan pandangan penulis mengenai dunia. Salah satu bagian yang menarik dan sangat penting bagi saya adalah pembahasan mengenai seni mendengarkan.
Desi Anwar menjelaskan bahwa mendengarkan memiliki seni tersendiri. Sebagaimana yang telah kita ketahui, mendengarkan itu berbeda dari sekedar mendengar. Kita bisa saja secara fisik mendengar orang-orang berbicara tetapi kita tidak benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, dan apa yang kita dengar itu hanyalah suara gaduh belaka. Kebanyakan dari kita malah justru lebih suka menggunakan lidah daripada telinga. Padahal sesungguhnya berbicara itu membutuhkan upaya fisik lebih keras daripada mendengarkan.
Dalam pembahasan ini juga dijelaskan bahwa cara kita mendengarkan juga menentukan seberapa baik kualitas komunikasi dan seberapa mulus hubungan kita dengan orang lain tumbuh dan berkembang. Mendengarkan secara semu menghasilkan komunikasi yang semu pula. Seperti ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal atau ketika bertemu dengan orang yang tidak kita pandang menarik. Hal yang dibicarakan biasanya seputar kabar, cuaca, dan pembahasan ringan lainnya. Itulah mendengarkan tingkat pertama. Kita merespon pertanyaan standar dengan jawaban standar.
Tingkat menyimak berikutnya sama tidak memuaskannya dengan tingkat pertama. Karena pada tingkat ini kita tidak benar-benarmendengarkan kata-kata dan makna yang disampaikan. Alih-alih kita membuat penilaian, asumsi tentang apa yang disampaikan dan memproyeksikan apa yang sudah ada dalam kepala kita, kita tidak mendengar informasi apa pun yang semestinya kita simak. Tujuan mendengarkan di sini bukanlah untuk mendapatkan sesuatu yang baru, melainkan semacam praktik memproyeksikan opini-opini, ide, dan informasi yang sudah lama ada di kepala kita. Yang serupa dengan jenis ini adalah ketika kita mendengarkan untuk mengkritik. Aktifitas mendengarkan hanya menjadi peluang untuk mengoreksi, mengungkapkan ketidaksetujuan, dan menganggap tidak penting kata-kata yang diungkapkan orang lain.
Jadi, bagaimana cara terbaik untuk mendengarkan? Cara terbaik untuk mendengarkan adalah cara yang dapat menghasilkan perasaan positif pada kedua belah pihak dan menciptakan bentuk komunikasi yang sama-sama dapat disepakati dan memuaskan. Agar mewujudkannya, kita harus mendengarkan dengan hati dan pikiran yang terbuka., bebas dari suara batin yang memberikan penilaian dan kritikan, dan juga kegaduhan pikiran yang terus menerus melatari dunia batin kita.
Dengan demikian, kita dapat benar-benar berempati satu sama lain dan menjaga diri untuk tidak menghakimi atau menyimpulkan serta mengoreksi masalah-masalah orang lain dan menawarkan solusi-solusi yang tidak perlu, tetapi benar-benar memahami apa yang disampaikan dan mengapa lawan bicara menyampaikan itu dari sisi pandang orang tersebut. Bukan dari sisi pandang diri kita sendiri.



kalimat yang harus digaris bawahi. Keren banget
ReplyDelete"Cara terbaik untuk mendengarkan adalah cara yang dapat menghasilkan perasaan positif pada kedua belah pihak dan menciptakan bentuk komunikasi yang sama-sama dapat disepakati dan memuaskan."
Mendengarkan tanpa gangguan kegaduhan pikiran dan dengan hati terbuka, sepakat😊
ReplyDelete