Foto Pernikahan


Siang ini terasa sepi, sama seperti hari Minggu biasanya. Walaupun libur, aku tidak melakuakn sesuatu yang begitu banyak. Karena itulah esensi hari libur menurutku, melakukan apapun yang membuat diriku merasa tenang dan tidak bising dengan hiruk pikuk pekerjaan. Seperti orang yang tidak memiliki hobi yang menyenangkan, hari ini aku lebih banyak membuka ponselku. Melihat video-video pendek yang membuat masa simakku semakin buruk dan membaca kegaduhan orang-orang yang tidak kukenal di X. Seketika ponselku mengingatkanku kembali akan "kenyangnya" dirinya, alias memori penuh. Tidak mengagetkan atau membuatku kesal, karena aku telah terbiasa dengan omelannya. 

Aku membuka galeri dan menghapus video-video berdurasi panjang yang menurutku tidak terlalu penting. Melihat foto-foto lama, emosiku sedikit bergejolak ketika aku melihat foto yang sudah lama tidak kulihat. Foto itu adalah foto pernikahan orang tuaku. Foto itu telah berumur kurang lebih 32 tahun yang lalu. Mereka masih terlihat sangat muda dan penuh harap akan masa depan. 

Aku berfikir, kemana harapan itu sekarang? 32 tahun kemudian? Apakah masih ada? Apakah harapan itu sudah terealisasikan? Atau hancur lebur dihajar zaman? Hanya mereka yang mampu menjawabnya. Yang ku tahu pasti adalah mereka telah bertahan dan berusaha sampai pada titik ini. Walaupun sang anak merasa tidak cukup, namun mereka telah berusaha semampu mereka, sekuat-kuatnya, setabah-tabahnya. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu, walau sebenarnya membutuhkan waktu bagiku untuk menyadarinya. 

Maafkan aku Ayah dan Ibu, atas segala mimpi-mimpi mudamu yang kau pendam dengan dalam demi menjaga ku agar tetap hidup. 

Comments

Popular Posts