Ikan Tongkol yang Hampir Utuh
Hari Minggu itu, aku makan siang di waktu sore. Kebetulan saat itu ibuku memasak lauk kesukaanku, yaitu ikan tongkol. Saat aku akan mengambil lauk, dan ternyata ikannya tinggal satu ekor saja. Tanpa ragu, akupun mengambilnya. Saat aku duduk dan akan memulai makan, ayahku datang untuk makan. Ia melihat lauk di piringku dan berkata, "Wih, enak ini lauknya!" Aku merasa sedikit bersalah dan berkata kepadanya bahwa lauknya tinggal satu. Ayahku merelakannya untuk ku makan saja. Tapi aku tidak tega, akhirnya aku mengambil piring dan memisahkan ikan tongkol itu untuk dimakan berdua. Kami pun duduk bersebelahan dan makan bersama. Aku sengaja mengambil lauknya sedikit saja agar ayahku kebagian juga. Namun, tanpa kusadari ternyata ayahku juga mengambil lauk itu sangat sedikit sekali. Hingga akhirnya setelah kami selesai makan, aku melihat ikan tongkol itu nyaris utuh. Begitu selesai, aku menyadari bahwa ikan tongkol tersebut adalah bukti cinta kasihnya. Cinta kasih yang selama ini tidak ia ucapkan secara lisan dihadapanku. Cinta kasih yang terkadang terhalang oleh lelahnya banting tulang yang berulang-ulang.



It’s take a moment to tell someone you love them, but it takes a lifetime to prove it.
ReplyDeleteButuh sedikit waktu untuk mengatakan cinta, perlu sepanjang hidup untuk membuktikannya. --Erich Fromm--
Tak perlu mengucapkan cinta kasih, yang lebih utama apakah kita semua merasakan cinta kasih? selamat merasakan dan membuktikan cinta kasih ^_^