Sudah Lama (Surat Untuk Siapa Ya?)


Hai, sudah lama kita tidak bertemu. Keadaan kamu selama ini bagaimana? Selama aku tinggalkan dan abaikan. Apakah kamu baik-baik saja? Maafkan aku karena telah meninggalkanmu begitu lama. Lebih dari satu tahun sepertinya. Kalau saja kamu bisa berbicara, pasti kamu sudah memakiku. Kalau saja kamu punya tubuh, pasti kamu sudah meninggalkanmu. Tapi di sinilah kita. Bertemu kembali, menguak nostalgia. Sejujurnya, bukannya aku berniat untuk mengabaikanmu. Aku sering memikirkanmu, sungguh. Memikirkan untuk mengunjungimu secepatnya, membuatmu hidup kembali. Begitu banyak yang ingin ku ungkapkan, tapi apalah daya. Rasa engganku selalu menang. Aku tidak seperti dulu yang selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungimu, melihatmu walau seminggu sekali. Aku sering menulis banyak hal saat itu, walau dipaksa. Benar, sepertinya memang harus dipaksa terlebih dahulu. Tapi, apakah kamu akan senang meski aku mengunjungimu dengan terpaksa? Ah, sepertinya lebih baik terpaksa daripada tidak sama sekali. Gagasan all or nothing tidak selalu berlaku pada segala sesuatu, termasuk saat ini, yang ini.

Sekali lagi aku mohon maaf, membangun kebiasaan memang sesulit itu, apalagi mempertahankannya. Sungguh aku sebenarnya ingin berjanji kepadamu untuk selalu datang. Tapi bahkan sebelum aku mengungkapkannya (janji) aku tahu kalau aku akan melanggarnya. Dan itu hanya akan membuatku membenci diriku. Sudah banyak aku memendam kebencian, aku tidak ingin menambahnya lagi. Jadi, sebelum segalanya terjadi, aku mohon maaf jika aku akan meninggalkanmu lagi. Tidak, tidak seperti itu, aku akan mengunjungimu lagi pasti. Tapi tidak tahu kapan. Aku berharap dengan penuh kesadaran dan kesungguhan kalau aku ingin mengunjungimu secepatnya. Doakan aku. 

Comments

Popular Posts