Deathly Wind River


Hari Minggu yang lalu, saya mencari hiburan untuk mengisi satu-satunya hari libur. Hiburan yang menurut saya ekonomis, bermanfaat, dan tidak menjenuhkan bagi saya saat itu adalah menonton film dari situs streaming gratisan. Sebenarnya saya sudah memiliki daftar film yang ingin saya tonton. Tapi entah mengapa kali ini saya agak kurang mood untuk menonton dari daftar film saya, karena alasan durasinya terlalu lama. 

Sampai akhirnya saya teringat akan sebuah cuplikan film yang saya temukan di instagram. Cuplikan tersebut mengisyaratkan bahwa film itu cenderung termasuk film roman yang tidak terlalu berat. Jadi, saya pikir itu cocok bagi saya yang sedang mengisi liburan dan tidak ingin mengonsumsi hiburan yang menguras otak. 

Film itu berjudul "Wind River" yang memiliki arti "Angin Danau". Tanpa melihat sinopsis, saya langsung menonton film itu. Adegan dibuka dengan latar sebuah bukit es, kamera mulai bergerak dengan intens ke arah sesuatu yang bergerak cepat ditengah bukit tersebut. Awalnya saya ragu, tapi ternyata "itu" bukanlah benda, melainkan seorang gadis yang berlari terseok-seok. Dugaan saya ternyata salah. Wind River bukanlah film roman yang ringan. Setelah beberapa saat menyimak film tersebut, saya akhirya menangkap bahwa film tersebut menceritakan tentang kejadian nyata kematian seorang gadis. Gadis itu bukanlah gadis kulit putih yang biasa kita temukan di film barat, tapi ia adalah seorang gadis Indian bernama Natalie, yang merupakan penduduk asli atau native Amerika. 

Film tersebut dimulai dengan ditemukannya jasad Natalie oleh seorang agen lingkungan yang sedang berpatroli di sebuah bukit es di lokasi observasi. Jasad yang ditemukan menunjukkan bahwa Natalie tidak meninggal karena sebab alami, namun karena adanya pembunuhan. Agen lingkungan tersebut akhirnya menghubungi polisi setempat dan FBI untuk melaporkan kasus tersebut. Tidak lama kemudian, polisi dan agen FBI datang ke lokasi untuk melalukan pemeriksaan. Jasad Natalie akhrinya dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi. Hasil autopsi menunjukkan bahwa Natalie mengalami pelecehan seksual dan beberapa pukulan. Dari pemeriksaan tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa Natalie meninggal karena dibunuh, sehingga polisi dan FBI tidak dapat mengangkatnya ke jalur hukum. Namun, agen lingkungan, FBI, dan polisi setempat tetap berikeras untuk mengungkap kasus ini. Walaupun telah menjadi jasad tak bernyawa, Natalie tetaplah korban kekerasan seksual, sehingga mereka harus bisa mencari mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Natalie, gadis Indian yang malang itu.

Setelah melakukan pemeriksaan selama beberapa hari, akhirnya tim tersebut mendapat pentunjuk tentang kematian Natalie. Benar, memang Natalie tidak meninggal karena dibunuh. Namun, ia meninggal karena ia melarikan diri dari kejaran bandit-bandit penjaga bukit tempat ia tinggal yang telah  memerkosanya. Ia berlari sejauh 9,6 KM tanpa alas kaki di bukit es sebelum akhirnya tubuhnya menyerah karena pendarahan paru-paru. Saya tidak bisa membayangkan betapa kuatnya tubuh mungil seorang gadis Indian tersebut. Tidak terbayangkan betapa pedihnya kondisi fisik dan psikis Natalie saat itu hingga tidak ada pilihan lain baginya selain menyerah pada gelapnya malam dan dinginnya bukit es. 

Film ini berhasil meningkatkan kesadaran saya akan ketidak adilan yang menimpa wanita Indian/pribumi di Amerika Serikat. Hanya karena ras dan gender, nyawa mereka dan kehormatan mereka begitu tidak memiliki nilai di mata penguasa. Padahal, mereka adalah kaum rentan yang telah berabad-abad lamanya ditindas dan tidak diakui haknya. Hal itu bukanlah sejarah masa lalu, namun kejadian yang masih terus berulang hingga saat ini. Tercatat, satu dari tiga wanita pribumi Amerika telah mengalami kekerasan sekual. Di Kanada, terdapat ribuan kasus wanita pribumi yang terbunuh atau hilang yang tidak diidentifikasi oleh kepolisian karena bias mereka terhadap wanita ras pribumi. 

Sungguh kenyataan yang sangat kejam. Entah apa yang membuat nyawa dan kehormatan seorang wanita lebih berharga dibanding wanita lainnya. Padahal justru wanita-wanita itulah yang lebih berhak dibanding siapapun yang berdiri di tanah mereka. Sepertinya naif kalau saya berharap pemerintah setempat mampu menyejahterakan wanita pribumi, tapi harapan untuk berdirinya keadilan masih ada dan akan terus saya pelihara, yang akan datang dari kaum yang sadar, yang melawan dan melepaskan belenggunya.

Comments

Post a Comment

Popular Posts